Sabtu, 17 Maret 2012

Kata Bijak Motivasi : Harga Waktu Ayah

Andre, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Andre, "Ayah, ayah kerja dikantor dibayar berpaa sih sebulan?"

Sembari mengernyitkan dahi si ayah menjawab, "ya, sekitar Rp. 2.500.000,00!"
"Kalo sehari berarti berpa,ya?" sela Andre.
Ayah mulai bingung, "Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Kok tanya gaji segala!"
Akan tetapi, Andre tetap bertanya lagi, "Kalo, setengah hari berarti Rp 50.000,00, dong?"
"Iya, memangnya kenapa?" sahut ayah mulai jengkel.

Kamis, 15 Maret 2012

Motivasi Diri : Berbagi

Sepasang suami istri yang berusia lanjut, suatu kali mengunjungi kantor pusat untuk bernostalgia tentang suka duka ketika masih aktif bekerja dahulu. Kesempatan bernostalgia ini rupanya dimanfaatkan mereka untuk menikmati sop buntut yang tersohor di kantin, dalam kantor pusat tersebut. Kebetulan, ketika itu jam makan siang sehingga banyak pegawai yang santap siang di sana.

Suami istri ini lalu masuk antrean untuk memesan sop buntut. Mereka memesan satu porsi sop buntut beserta nasinya, dan dua gelas es teh manis serta sebuah piring kosong dan mangkuk. Semua yang melihat mereka heran. Sepasang suami istri ini hanya memesan satu porsi. Bahkan, beberapa pegawai lain iba melihat betapa menderitanya nasib pensiunan ini sehingga untuk makan siang di kantin saja hanya memesan satu porsi. Sang suami lalu membagi nasi menjadi dua bagian, demikian pula sop buntutnya. Satu bagian untuk dirinya dan bagian lain diserahkan kepada istrinya. Mulailah mereka makan. Namun, yang makan adalah suami dulu, sementara sang istri dengan tersenyum menunggu dan menatap kekasihnya makan.

Rabu, 07 Maret 2012

Novel Motivasi : Pudarnya Pesona Kleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Sabtu, 03 Maret 2012

Motivasi Diri : Kupu-kupu

Ada seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah dilewatinya, namun tak satupun titik membuatnya puas. Kekosongan makin senyap sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain di sana.

"Sedang apa kau di sini, anak muda?" tanya orang itu. Rupanya suara seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan?"

Anak muda itu menoleh. "Aku lelah, Pak tua. Telah berkilometer jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Ke manakah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Jumat, 02 Maret 2012

Motivasi Kerja : Mawar

Seseorang pemuda membeli bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar it di kebun belakang rumah. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik dan diletakkan pot itu disudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharp bibit itu dapat tumbuh dengan sempurna.

Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun dirawatnya pohon mawar itu. Tak lupa jika ada rumput yang mengganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya mulai merekah, walaupun warna belum terlihat sempurna. Pemuda ini senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.

Kamis, 01 Maret 2012

Motivasi hudup : Warna

Ada dua orang anak selalu berkelahi. Dalam banyak hal, mereka tak pernah akur. Mereka selalu berselisih paham. Saat yang satu berpendapat A, maka yang lain pasti punya pendapat yang berbeda. Mereka lakukan hal ini dimana saja. Di sekolah, di rumah, ataupun di tempat bermain. Tentu saja, hal itu sangat merepotkan guru mereka. Karena, mengganggu orang lain.

Suatu pagi ibu guru memanggil kedua anak itu. Ia meminta mereka masuk ke dua ruangan berbeda. Ruangan itu hanya dipisahkan sebuah tembok, namun ibu guru masih dapat melihat apa yang dilakukan mereka berdua dari kejauhan.

Di ruangan itu terdapat meja dengan selembar kertas yang terhampar di atasnya. Ibu guru meminita mereka menyebutkan apa warna kertas itu. Ah, lagi-lagi mereka berselisih paham. Anak yang pertama bilang, "Kertas itu Putih!" Dari ruangan sebelahnya terdengar teriakan, "Bukan, bukan putih, kertas itu berwarna hitam." Putih! Hitam! Putih!!! Hitam!!! Terdengar suara bersahutan.

Rabu, 29 Februari 2012

Cerita Motivasi : Memupuk Optimisme


Ada dua buah bibit tanaman terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menghujamkan akarku dalam-dalam di tanah ini. Aku ingin menjulangkan tunas-tunasku ke angkasa. Aku ingin tunasku menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku." Dan, bibit itu tumbuh.

Bibit yang kedua bergumam, "Aku takut jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba memakannya? Dan pasti jika aku tumbuh danmerekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak! Akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman."

Motivasi Belajar : Meluaskan Hati

Ada seorang tua yang bijak. Suatu pagi ia kedatangan anak muda. Langkahnya gontai. Air mukanya ruwet. Ia seperti sedang dirundung masalah. Anak muda itu menumpahkan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Setelah tamunya tuntas bercerita, tiba-tiba orang tua itu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburikannya garam itu kedalam gelas. Diaduknya perlahan.

"Minum dan katakan bagaimana rasanya!" kata Pak Tua itu singkat.
"Puih...!" Sang tamu meludah ke samping. "Asin sekali. Tenggorokanku seperti tercekik," kata si pemuda itu lagi.

Selasa, 28 Februari 2012

Kata Mutiara Motivasi : Cangkir yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja ke sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, itu cangkir tercantikyang pernah aku lihat," uajr si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara. "Terima kasih untuk perhatiannya. Perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang perajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Katakata Motivasi : Perajin Emas dan Perajin Kuningan

Di sebuah negeri hiduplah dua orang perajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah perajin emas dan perajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu. Mereka mendapat keahlian itu secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai perhiasan.

Setiap akhir bulan mereka membawa hasil kerja in ike kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada tetamu agung datang mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. kabar ini membuat mereka senang. Para pedagang terdorong untuk membuat lebih banyak lagi hasil kerajinannya agar lebih banyak barang yang dapat dijajakan. Tak terkecuali dua orang perajin yang menjadi tokoh kita ini.

Senin, 27 Februari 2012

Motivasi Kata : Dua Ekor Singa

Suatu sore di tengah telaga terlihat dua orang sedang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu bersama. Dia atas perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan.

"Ayah."
"Hmm.., ya." Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.
"Beberapa malam ini," ucap sang anak, "aku bemimpi aneh. Dalam mimpiku ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigi-gigi mereka terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan."

Minggu, 26 Februari 2012

Kata Motivasi : Kekuatan Cinta

Di pegunungan Andes hidup dua suku. satu tinggal di lembah, sedangkan satunya lagi di atas gunung. Suatu hari suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke ats gunung.

Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mereka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka juga tidak tahu dimana letak desa suku gunung. Juga tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak suku gunung di tebing-tebing gunung itu. Meski begitu, mereka mengirim prajurit-prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit pertama gagal,mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain. Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja. Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.

Motivasi: Pasir dan Batu

Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yag berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk. 

Tiba-tiba badai datang. angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.